Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2012

Terlalu Dekat dengan AS, Iran Ancam Tetangga

Angkatan Laut Iran
Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi memberikan peringatan kepada negara tetangganya untuk tidak terlalu dekat Amerika Serikat (AS). Menurutnya, negara tetangga seperti Arab Saudi telah membawa dirinya ke posisi yang membahayakan.

Amerika Serikat (AS) saat ini memang terus bersitegang dengan Iran mengenai program pengayaan nuklir Negeri Para Mullah itu. AS menuduh Iran telah mengembangkan senjata nuklir, yang tentunya dibantah oleh Iran.

Iran pun mengancam untuk melakukan penutupan di Selat Hormuz yang digunakan sebagai jalur distribusi minyak dunia. Bila terjadi penutupan, maka dipastikan bahwa distribusi minyak dunia akan mengalami gangguan besar.

"Kami menginginkan kedamaian dan kestabilan di wilayah ini. Tapi beberapa di wilayah ini justru ingin mengarahkan sebuah negara lain yang jauhnya sekira 12 ribu mil, untuk masuk ke wilayah kami," jelas Menteri Luar Negeri Ali Akbar Salehi saat melakukan kunjungan ke Turki, seperti dikutip Reuters, Jumat (20/1/2012).

"Saya meminta agar seluruh negara yang berada di kawasan (Arab), untuk tidak terlibat dalam posisi yang membahayakan," tutur Menlu Salehi setengah mengancam.

Arab Saudi sebagai eksportir minyak nomor satu di dunia, gelisah dengan ulah ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Mereka pun segera menambah pasokan minyak untuk konsumen tetap jika memang diperlukan. 

Selain Arab Saudi, Turki juga menjadi negara yang bermaksud untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap minyak Iran. Hal ini sudah dilakukan oleh perusahaan minyak Turki, Tupras.

Ancaman demi ancaman juga dihadapi oleh Iran. Uni Eropa sebagai contoh, mereka ingin menjatuhkan sanksi baru kepada Iran. Namun hal ini tidak disetujui oleh Rusia yang menilai sanksi baru itu hanya akan mengundang bencana.

Iran sendiri bersedia untuk melakukan negosiasi dengan AS. Namun pihaknya hanya bersedia melakukan negosiasi yang tanpa disertai syarat. AS sendiri tidak ingin berada duduk satu meja dengan Iran, jika Pemerintah Presiden Mahmoud Ahmadinejad itu menghentikan program pengayaan nuklirnya. 
Sumber : OkeZone

Belanda Mengkhianati Orang Papua

Kampanye Papua Merdeka di UK
Belakangan semakin gencar warga Papua menuntut kemerdekaan dari Republik Indonesia. Namun semakin keras tuntutan mereka, tindakan pihak keamanan Indonesia pun semakin bengis. Mereka menuntut merdeka, karena dulu diiming-imingi kemerdekaan oleh Belanda. Apa yang terjadi saat itu?
Koran Belanda De Volkskrant menampilkan berita tentang kasus Papua ini panjang lebar. Setelah lima puluh tahun, tulis koran ini, orang Papua juga masih merasa dikhianati Belanda. Kemerdekaan yang dijanjikan Belanda kepada rakyat Papua, tak kunjung datang. Tapi cita-cita kemerdekaan itu masih hidup di hati orang Papua.
Namun cita-cita itu ditindas dengan keras oleh pemerintah Indonesia. Demikian De Volkskrant mengawali laporannya.
Mempertahankan pengaruh
Ketika Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Indonesia pada 1949, Nieuw-Guinea, nama Papua di zaman Belanda, tetap dipertahankan sebagai wilayah jajahan Belanda. Alasannya apa, tidak jelas. Mungkin karena Belanda masih mau mempertahankan pengaruhnya di kawasan.
Lalu Belanda pun membangun kawasan itu dan berupaya untuk menjadikannya sebagai kawasan jajahan teladan. Mungkin tujuannya untuk menunjukkan ke mata dunia, bahwa penjajahan itu tidak selalu buruk.
Namun Indonesia tetap menuntut kawasan itu dan mengancam perang. Malah Indonesia beberapa kali mencoba melakukan invasi. Dunia internasional semakin mendesak Belanda untuk melepas daerah jajahannya itu, untuk mencegah bertambah parahnya kondisi.
Cikal bakal
Namun Belanda tidak mau sama sekali menyerahkan Papua kepada Indonesia. Belanda malah menyiapkan kemerdekaan kawasan itu. Maka pada 1 Desember 1961 Nicolaas Jouwe memperkenalkan bendera Bintang Kejora. Lalu dibentuklah Dewan Nieuw-Guinea, yang berfungsi sebagai cikal bakal pemerintah Papua Merdeka.
Indonesia menentang dengan sengitnya dan akhirnya tercapai kompromis di PBB. Kawasan itu akan dimasukkan di bawah naungan PBB dan lama kelamaan akan digelar "act of free choice", semacam referendum, supaya rakyat Papua bisa menentukan pilihan merdeka atau tidak.
Invasi Indonesia
Namun Indonesia cepat-cepat menginvasi kawasan itu sebelum Belanda hengkang dari sana. Pada 1969 "referendum" yang kontroversial itu digelar. Sekelompok orang Papua yang sudah dipilih lebih dahulu dipaksa memilih untuk bergabung dengan Republik Indonesia.
Dunia internasional sempat memprotes, tapi akhirnya pasrah juga.
Sejak itulah Nieuw-Guinea menjadi provinsi Indonesia dan diberi nama Irian Jaya. Ibu kota Holandia diganti dengan Jayapura.
Dari cerita di atas jelas sekali orang Papua saat itu dijanjikan oleh Belanda untuk merdeka. Tapi janji itu tak terpenuhi oleh Belanda. Karena janji Belanda itulah, orang Papua kecewa."Orang Papua dikhianati politisi." Demikian bunyi judul berita di De Volkskrant.

Senin, 16 Januari 2012

Iran Bekuk Tersangka Pembunuhan Pejabat Nuklir

Instalasi Nuklir Iran [Foto Republika]
TEHERAN - Teka-teki soal pembunuhan pejabat nuklir Iran kini mulai menemui titik terang. Republik Islam Iran telah menangkap beberapa tersangka pembunuhan tersebut.
Ketua Majlis (parlemen) Iran, Ali Larijani, mengatakan kepada Al-Alam bahwa penyelidikan kini sedang dilakukan untuk memperjelas identitas tersangka pembunuhan pejabat nuklir iran. Dia menuduh Israel berada di balik tindakan teror. ''Iran tidak akan tinggal diam. Iran akan merespon Israel dengan cara yang tepat,'' kata Larijani.

Mostafa Ahmadi-Roshan (32 tahun), wakil kepala bagian pengayaan komersial situs nuklir Natanz Iran, tewas dalam serangan bom mobil di utara Teheran pada Rabu lalu. Media Iran melaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri Iran mengirim surat protes kepada pemerintah Amerika Serikat. Surat itu menyatakan bahwa Badan Intelijen Pusat AS (CIA) berada di balik serangan teroris baru-baru ini yang menyebabkan meninggalnya pejabat nuklir Iran itu.

Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, membantah bahwa Amerika Serikat terlibat dalam pembunuhan seorang staf nuklir Iran. "Saya ingin tegas menyangkal keterlibatan apapun Amerika Serikat dalam setiap jenis tindak kekerasan di Iran," kata Hillary.
Beberapa ilmuwan nuklir Iran telah dibunuh dalam beberapa tahun terakhir ini. Iran menuduh Amerika Serikat, Inggris serta Israel berada di balik serangan itu.
Redaktur: Didi Purwadi

Minggu, 15 Januari 2012

Castro: Iran Takkan Berperang dengan AS

Ahmadinejad & Fidel Castro
HAVANA - Mantan Presiden Kuba Fidel Castro mengatakan, Iran nampaknya tidak akan berperang dengan Amerika Serikat (AS). Pernyataan Castro muncul setelah dirinya bertemu dengan Presiden Iran Ahmadinejad di Kuba beberapa hari yang lalu.

"Saya yakin, Iran tidak akan melakukan sebuah tindakan yang akan menciptakan peperangan," ujar Castro seperti dikutip Xinhua, Sabtu (14/1/2012).

"Saya mengenal Presiden Iran, dia tampak tenang dan tidak agresif. Saya juga yakin, Iran memiliki kemampuan dalam menanggapi agresi AS," tambahnya.

Castro juga mengatakan bahwasannya ketegangan hubungan antara Paman Sam dan Iran akan menciptakan masalah yang rumit di Timur Tengah dan juga Asia Tengah.

Saat kedua musuh dari AS itu bertemu, Ahmadinejad mengutarakan kegembiraannya ketika menyaksikan kondisi Castro yang tampak sehat. Iran juga berpidato di Universitas Havana di Kuba dan mengecam kapitalisme.

"Saya sangat senang melihat kondisi Komandan Castro yang sehat," ujar Ahmadinejad yang berbicara lewat seorang penerjemah.

Fidel Castro yang berkuasa selama lima dekade di Kuba menyerahkan kekuasaannya kepada adiknya sendiri, Raul Castro pada 2006 lalu karena kesehatannya yang memburuk. Meski demikian, Fidel masih dianggap sebagai figur yang sangat kuat dan berpengaruh di Kuba.

Hingga saat ini, Castro juga selalu menyuarakan komentar anti-ASnya dan menantang Paman Sam. Castro juga menjadi figur idola bagi pemimpin negara-negara Amerika Latin lainnya, seperti Hugo Chavez di Venezuela, Evo Morales di Bolivia, dan Daniel Ortega di Nikaragua.(AUL)
Sumber Berita : Okezone 

"Serangan ke Iran Adalah Ancaman ke Rusia"

Deputi Perdana Menteri Rusia untuk NATO Dmitry Rogozin
MOSKOW - Deputi Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin tampak memperhatikan adanya eskalasi ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat seiring dengan munculnya Arab Spring. Dirinya juga menilai, serangan Iran dapat menjadi ancaman bagi Rusia.

"Iran merupakan negara tetangga kami, seperti halnya negara-negara di bagian Kaukasus Selatan. Bila Iran terseret dalam konfrontasi militer, hal itu akan menjadi ancaman bagi keamanan nasional kami," ujar Rogozin, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (14/1/2012).

Meski Rusia saat ini mulai melontarkan kekecewaannya terhadap Iran, Negeri Beruang Merah itu masih tetap yakin, perang dan sanksi bukanlah solusi tepat untuk menyelesaikan kasus nuklir Negeri Persia itu.

Rusia juga mendesak Barat agar tidak gegabah dalam menghadapi Iran, karena setiap perilaku agresif dari negar-negara Barat hanya akan menciptakan kebuntuan dalam proses dialog nuklir Iran.

Hingga saat ini, Iran pun berniat menggelar latihan militer babak keduanya di dekat Selat Hormuz, seperti yang mereka gelar beberapa pekan yang lalu. Namun Iran menjelaskan bahwasannya latihan militer itu akan jauh lebih berbeda dari sebelumnya, karena akan melibatkan pasukan Garda Revolusi.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dan Israel juga akan menggelar latihan militer besar-besaran guna meningkatkan kapabilitas dalam pertahanan misilnya.
(crl)
Sumber Berita : Okezone 

Qatar Serukan Intervensi Militer di Suriah

Foto : Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani
Pemimpin Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, menyerukan agar pasukan militer segera dikirim ke Suriah untuk menghentikan pembunuhan yang dilakukan rezim Presiden Bashar al-Assad.

Pernyataan tersebut dinilai mengejutkan karena untuk pertama kalinya seorang pemimpin negara Arab menyerukan secara terbuka intervensi militer di Suriah.

"Dalam menghadapi situasi seperti ini untuk menghentikan pembunuhan, kita harus mengirimkan pasukan," ujar Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani dalam wawancaranya dengan sebuah stasiun televisi swasta seperti dikutip BBC, Minggu, (15/1/2012).

Pernyataan Sheikh Hamad ini muncul setelah sebelumnya Pemerintah Suriah dinilai berusaha menggagalkan misi tim pemantau Liga Arab yang menjalankan misinya di Suriah.

Salah seorang anggota tim pemantau, Anwar Malek, yang mengundurkan diri pekan lalu mengatakan, misi yang dijalankan Liga Arab merupakan sebuah lelucon. Anwar Malek juga mengatakan, dia menyaksikan langsung kejahatan perang yang terjadi di Suriah.

Sementara itu dua anggota tim pemantau lainnya yang berasal dari Kuwait terluka akibat konvoi kendaraan mereka diserang di Kota Latakia. Insiden penyerangan ini menyebabkan misi ditunda dalam waktu yang tidak disebutkan.

Tim pemantau Liga Arab dijadwalkan akan memberikan laporan terkait pemantauan mereka di Suriah pada 19 Januari mendatang. Jika laporan tersebut membenarkan kejahatan perang yang terjadi di Suriah maka Liga Arab akan mengajukan Suriah ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sejauh ini China dan Rusia yang mendukung rezim Presiden Assad menolak langkah Liga Arab tersebut. Kedua negara ini menilai hal itu dapat memicu intervensi internasional lain seperti yang terjadi pada Libya.

Sementara itu PBB dalam laporannya menyebutkan, sekira 400 warga sipil tewas selama tim pemantau berada di Suriah dan diperkirakan lebih dari 5.000 lainnya tewas sejak aksi protes anti-Assad berlangsung Maret 2011. Laporan terkait jumlah korban tewas sulit diverifikasi karena media asing dilarang melakukan peliputan di Suriah.(rhs)
Sumber Berita : Okezone

Sekjen PBB: Hentikan Pembunuhan Sipil di Suriah

Ban Ki-moon [Foto : VOA]
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengeluarkan seruan kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad hari Minggu, agar menghentikan aksi pembunuhan terhadap rakyatnya.
Dalam pidatonya pada konferensi yang terfokus pada demokrasi di dunia Arab, Ban mengatakan jalur represi adalah jalan buntu.
Ban mengatakan kepada mereka yang hadir di Beirut bahwa revolusi di dunia Arab menunjukkan bahwa rakyat tidak lagi puas dengan kepemimpinan satu orang.
PBB mengatakan lebih dari 5.000 orang tewas di Suriah sejak pergolakan dimulai Maret lalu. Sementara itu, pihak berwenang Suriah menyalahkan apa yang mereka sebut teroris bersenjata karena telah membunuh sekitar 2.000 anggota pasukan keamanan.
Dalam sebuah wawancara yang akan disiarkan Minggu di Amerika (di saluran televisi CBS), emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, mengusulkan untuk mengirim pasukan Arab ke Suriah untuk menghentikan pertumpahan darah di negara itu.

Khalifa Al-Thani adalah pemimpin Arab pertama yang secara terbuka mendukung intervensi militer Arab di Suriah, di mana para demonstran menuntut pengunduran diri Presiden Assad. Ia mengatakan misi pengamat Liga Arab, yang dikirim ke Suriah tanggal 26 Desember, telah membuat kesalahan, dan bahwa bantuan PBB diperlukan untuk meningkatkan pengawasan terhadap pemerintah Damaskus.


Dalam bentrokan terbaru haru Sabtu, Pengamat Suriah untuk HAM yang berkantor di Inggris mengatakan sejumlah orang tewas di berbagai wilayah di negara itu, termasuk seorang anak lelaki berusia 13 tahun dan seorang pria berusia 27 tahun di kota Homs.

Sekjen PBB: Pembunuhan Ilmuwan Iran Tindakan Teroris

Ban Ki-Moon [Foto: MetroNews]
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon menyebut pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran adalah tindakan teroris. Kecaman itu disampaikan dalam konferensi pers di Beirut, Lebanon, Sabtu (14/1).

Menurutnya, pembunuhan orang biasa ataupun ilmuwan tidak bisa diterima dan harus dikutuk.


Dalam kesempatan ini Ban Ki-moon menyerukan dukungan untuk hak asasi manusia. Ia menyebutkan Lebanon merupakan negara dengan tingkat efektivitas yang tinggi di wilayah itu. Karena itu, ia menambahkan negara merupakan pemain penting dalam pembentukan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.


Menurutnya, Lebanon memiliki posisi penting baginya dan PBB. Karena itu, ia menganggap penting menjaga perdamaian dan stabilitas di Lebanon hari-demi-hari lebih jelas. Karena sebab itupula ia mengaku telah memilih Lebanon sebagai negara pertama dalam lawatannya ke kawasan tersebut.


Mengacu pada situasi saat ini di Suriah dan prakarsa Liga Arab untuk menyelesaikan krisis di negara tersebut, Ban Ki-moon mengaku mengawasi perkembangan di Suriah dengan cermat dan mendukung upaya-upaya Liga Arab serta prakarsanya dalam keprihatinan ini.


Menyoal peran militer di Lebanon selatan, ia mengaku senang bahwa tentara Lebanon mencoba menjaga perdamaian di negaranya sendiri bersama dengan pasukan UNIFIL.(Ant/BEY)
Sumber Berita : Metro Tv News

Sabtu, 31 Desember 2011

AMBISI ANTARIKSA MILITER CHINA-Satelit Beidou Ancam Dominasi GPS AS

Pekan ini China mencapai prestasi besar dalam tekad mereka menguasai penggunaan antariksa oleh militer, dengan peluncuran satelit percobaan jaringan pemosisian global (GPS) Beidou.

Langkah ini bisa membawa Negeri Panda itu satu langkah lebih dekat untuk menyamai kemampuan antariksa Amerika Serikat (AS). Kalau Beijing sukses menempatkan seluruh 35 satelit yang direncanakan untuk jaringan Beidou sesuai jadwal pada 2020,militer mereka akan bebas dari kebergantungan navigasi terhadap sinyal GPS AS dan sistem GLONASS Rusia.


Dan,tak seperti versi sipil GPS dan GLONASS yang kurang akurat yang dipakai Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat (PLA) China, jaringan ini akan memberikan keakuratan untuk memandu rudal,mesiu pintar,dan senjata lain kepada China. ”Ini akan memberikan jalan lompatan besar dalam kemampuan ketelitian serangan PLA,”ujar Andrei Chang, analis militer China berbasis Hong Kong yang juga editor majalah Kanwa Asian Defence, dikutipReuters.

Menurut Kantor Manajemen Navigasi Satelit China, negara itu telah meluncurkan 10 satelit Beidou dan berencana meluncurkan enam lagi akhir tahun depan. Pakar China dan militer asing memaparkan, Departemen Staf Umum dan Departemen Persenjataan Umum China berkoordinasi secara dekat dan mendukung seluruh program antariksa dalam birokrasi sains dan aerospace.

Sebagai bagian sistem ini, jaringan Beidou atau ”Gayung Besar”akan memiliki peranan militer penting bersama jaringan satelit pengintaian, pencitraan,dan remote sensing yang terus meluas. China secara rutin membantah memiliki ambisi militer di antariksa.Juru Bicara Kementerian PertahananYangYujun membantah kekhawatiran bahwa jaringan Beidou akan menjadi ancaman militer, dengan menekankan bahwa seluruh navigasi satelit internasional dirancang untuk penggunaan ganda,yaitu sipil dan militer.

China mempercepat riset dan pengembangan satelit militernya, setelah komandan PLA tahu bahwa mereka tidak mampu menelusuri jejak dua kelompok kapal induk AS yang ditempatkan di Selat Taiwan pada 1996 di tengah tingginya ketegangan antara pulau dan daratan itu. Usaha itu mendapatkan dorongan lebih ketika mereka diperlihatkan betapa pentingnya jaringan satelit pada Perang Teluk 1991,pengeboman Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) atas Yugoslavia pada 1999,dan invasi Irak pada 2003.

”Yang kita lihat adalah China secara meluas mencapai kemampuan yang sama pada area ini, sebagaimana yang dipegang AS,”papar Ross Babbage, analis pertahanan dan pendiri Kokoda Foundation,unit kebijakan keamanan independen yang berbasis di Canberra. Dalam artikel untuk Journal of Strategic Studies, periset Eric Hagt dan Matthew Durnin mencoba memperkirakan kemampuan jaringan antariksa China dengan menggunakan software model orbit dan data yang ada pada satelit.

Menurut mereka,satelit paling dasar China memiliki sensor elektro-optik yang mampu mengambil gambar digital resolusi tinggi.Satelit yang lebih maju memiliki radar celah sintetik yang kuat yang mampu memasuki awan dan mencakup area yang lebih besar dalam detail tinggi. China saat ini menempatkan satelit yang mampu memonitor sinyal dan emisi, yang disebut intelijen elektronik atau platform ELINT. ALVIN

Serangan Roket Militer Yaman Tewaskan Enam Militan Al Qaeda

Militer Yaman membunuh enam tersangka militan Al Qaeda dalam serangan roket Katyusha terhadap tempat persembunyian mereka di kota bergolak selatan, Zinjibar, kata pejabat setempat, Jumat (30/12).
"Militer melakukan pemboman dengan menggunakan roket-roket Katyusha terhadap sebuah rumah di daerah timur Zinjibar tempat militan Al Qaeda berkumpul untuk merencanakan serangan terhadap satuan-satuan militer, menewaskan enam orang," kata pejabat itu di kota berdekatan Jaar.

Diantara korban yang tewas adalah seorang warga Arab Saudi dan seorang warga Aljazair, kata pejabat itu, dengan menambahkan bahwa rumah tempat mereka bersembunyi hancur dalam serangan pada Rabu larut malam itu.

Sementara itu seorang perwira militer mengatakan, lima prajurit cedera dalam bentrokan Rabu di Zinjibar dan dibawa ke sebuah rumah sakit militer di kota utama wilayah selatan, Aden.

Sejak protes anti-pemerintah meletus di Yaman pada akhir Januari, militan memanfaatkan melemahnya kekuasaan pusat dengan membangun pangkalan di sejumlah provinsi selatan.

Pasukan keamanan Yaman selama beberapa bulan memerangi kelompok orang bersenjata yang dituduh sebagai anggota Al Qaeda di Abyan, Yaman selatan, khususnya di ibu kota provinsi itu, Zinjibar, yang sebagian besar dikuasai oleh militan sejak Mei.

Kekerasan menewaskan ratusan prajurit sejak militan bersenjata yang menamakan diri "Pengikut Sharia" menguasai sebagian besar Zinjibar, ibu kota provinsi Abyan, pada 29 Mei. Ratusan militan juga tewas dalam bentrokan-bentrokan.

Para pejabat keamanan mengatakan bahwa militan itu adalah Al-Qaeda, namun oposisi politik menuduh pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh mengada-ada tentang ancaman jihad dengan tujuan menangkal tekanan Barat terhadap kekuasaannya yang telah berlangsung 33 tahun.

Pertempuran di Abyan itu berlangsung ketika protes massal yang menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh memasuki bulan kedua-belas, yang melumpuhkan sejumlah kota dan mendorong negara itu ke dalam ketidakpastian politik.

Saleh, yang berada di sebuah rumah sakit di Arab Saudi sejak Juni setelah ia cedera dalam serangan bom terhadap istananya di Sanaa, kembali ke Yaman pada 23 September dengan menjanjikan perdamaian.

Demonstrasi di Yaman sejak akhir Januari yang menuntut pengunduran diri Saleh telah menewaskan ratusan orang.

Dengan jumlah kematian yang terus meningkat, Saleh, sekutu lama Washington dalam perang melawan Al-Qaeda, kehilangan dukungan AS.(Ant/AFP)

Kamis, 29 Desember 2011

Paus Serukan Pertumpahan Darah di Suriah Diakhiri

Paus Benediktus XVI di Basilica Santo Petrus, Vatikan (24/12). Foto :AP
Paus Benekditus menyerukan diakhirinya pertumpahan darah di Suriah dan dilanjutkannya perundingan damai Timur Tengah, ketika orang-orang Kristen di seluruh dunia merayakan hari kelahiran Yesus lebih dari 2.000 tahun yang lalu.
Ketika menyampaikan pidato Natal tahunannya yang berjudul “Urbi et Orbi”, Paus menyampaikan doa bagi ribuan korban banjir di Asia timur dan penduduk kawasan tanduk Afrika yang kelaparan.
Paus berbicara dari jendela gedung Vatikan kepada puluhan ribu peziarah dan turis yang memenuhi lapangan Santo Petrus.
Paus yang berusia 84 tahun itu juga menyerukan berlanjutnya dialog politik di Burma, stabilitas di Irak dan Afghanistan dan juga di kawasan danau-danau besar di Afrika tengah.
“Perayaan Natal telah menjadi perayaan komersial dengan lampu-lampu gemerlapan, yang menghilangkan kesederhanaan Tuhan. Inilah yang mendorong kita untuk kembali ke kesederhanaan. Marilah kita minta pada Tuhan supaya membantu kita melihat makna kelahiran seorang bayi di kandang domba di Bethlehem, supaya kita bisa menikmati kegembiraan yang sesungguhnya, " kata Paus Benediktus.

13 Warga Suriah Tewas di Hari Pertama Kunjungan Tim Peninjau Liga Arab

Detik News/ Foto: cultofmac.com
Damaskus - Aksi kekerasan terus terjadi meski tim peninjau Liga Arab telah datang ke Suriah untuk memastikan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad menjalankan kesepakatan perjanjian dengan Liga Arab. 13 Warga dilaporkan tewas di berbagai kota di Suriah pada hari pertama kedatangan tim peninjau Liga Arab.

Di Kota Hama, enam orang dilaporkan tewas dalam sebuah demonstrasi anti-pemerintah. Kelompok aktivis HAM lokal juga menyebutkan korban tewas lainnya tedapat di Kota Homs, Aleppo dan Idlib. Seperti diberitakan Aljazeera, Kamis (29/12/2011), sebuah video milik aktivis HAM memperlihatkan demonstran di Kota Hama ditembak dengan senjata api.

Puluhan orang melakukan long march di jalan-jalan Kota Hama sambil berteriak "Di mana Tim Peninjau Liga Arab?" Di Kota Deera, pasukan pembelot menewaskan empat prajurit Suriah dalam sebuah penyergapan.

Sementara itu, ketua tim peninjau Liga Arab, Mustafa al-Dabi, mengatakan pihaknya mengunjungi Kota Homs, Hama dan Idlib. Dalam kunjungannya ke Kota Homs kemarin, Mustafa mengaku tidak melihat sesuatu yang berarti di kota tersebut.

"Kemarin terlihat sangat tenang dan tidak ada pertikaian. Kita tidak melihat tank atau kendaraan tempur lainnya," kata Mustafa.

"Tapi ingat, ini baru hari pertama dan perlu dilakukan investigasi. Kita memerlukan 20 orang yang akan berada di sana sepanjang waktu," tambahnya.

Tim peninjau Liga Arab datang ke Suriah untuk melakukan penilaian apakah pemerintah mematuhi rencana perdamaian dengan menarik pasukannya dari kota-kota di Suriah, membebaskan para tahanan dan melakukan dialog terbuka dengan para lawannya.

Aktivis HAM Suriah dan pihak oposisi menyebut pasukan pro Presiden Bashar al-Assad telah membunuh ratusan tentara disertir, masyarakat dan aktivis pemerintah menjelang kedatangan tim peninjau independen Liga Arab ke Suriah.

Para aktivis mengatakan pasukan militer Presiden Bashar al-Assad sedang gencar mengintensifkan tindakan kekerasan. Mereka juga melakukan intimidasi karena tim peninjau akan datang ke negara itu.
Sumber : Detik News

Militer Suriah Kembali Tewaskan Enam Demonstran

Liga Arab kembali memonitor tindakan keras pemerintah Suriah terkait demonstrasi massa di pusat kota Homs, Rabu (28/12). Pihak aktivis mengatakan, tentara melepaskan tembakan ke arah ribuan demonstran tak bersenjata dalam kekerasan terbaru dan menewaskan sedikitnya enam orang.
Meskipun rezim Presiden Bashar Assad telah membuat konsesi ke kelompok pengamat termasuk pelepasan hampir 800 tahanan, pihak militer justru terus menekan maju dengan dalih memadamkan protes massa yang sebagian besar berjalan damai.
Dalam dua hari sejak tim monitor Liga Arab tiba, aktivis mengatakan tentara telah menewaskan sedikitnya 39 orang, termasuk enam tembakan di pusat kota Hama Rabu kemarin. Pertumpahan darah yang terus berlangsung telah memicu keprihatinan kelompok oposisi Suriah, yang menyatakan bahwa misi Liga Arab hanya lelucon dan dianggap sebagai gangguan dari proses pembunuhan massa oleh pihak militer Suriah.
Pihak oposisi menuduh Assad hanya mencoba untuk mengulur waktu dan mencegah lebih banyak sanksi dan kecaman internasional. "Misi Liga Arab sama sekali tanpa mandat, otoritas dan wewenang. Rezim berkuasa tidak merasa berkewajiban untuk menurunkan jumlah korban tiap harinya," kata Ausama Monajed, anggota Dewan Nasional Suriah, yang menjadi kelompok oposisi utama."
Pihak oposisi menegaskan, seharusnya Suriah telah berhenti melakukan kekerasan terhadap gelombang protes massa yang telah berlangsung selama sembilan bulan terakhir. Tercatat, kekerasan militer Suriah telah menewaskan lebih dari lima ribu orang sejak Maret lalu.

Minggu, 25 Desember 2011

ILPS CONDEMNS INDONESIAN MILITARY AND POLICE FORCES FOR BARBARIC ATTACKS ON THE PEOPLE OF WEST PAPUA

JMS (Search Google)
PRESS RELEASE FROM ILPS

By Prof. Jose Maria Sison
Chairperson
International League of Peoples’ Struggle
22 December 2011

We, the International League of Peoples’ Struggle, condemn in the strongest terms the Indonesian military and police forces for barbaric attacks on the people of West Papua, particularly in the large area of Paniai since December 13.
Human rights organizations have reported that scores of West Papuans have been killed and wounded. Twenty-seven villages have been razed to the ground. Over 20,000 people have been forced to evacuate more than 130 villages and are vulnerable to hunger and disease. The attacks have been carried out by Indonesian ground forces and by helicopter gunships.
Involved in the attacks are more than four combat battalions of Indonesian army (TNI) Kostrad commandos from Battalion 753, Brimob paramilitary police, and elite counter-terrorism troops from Detachment 88– all units armed, trained, and supplied by the Australian and US governments.
Since April 2011, they have been deployed to encircle the alleged headquarters of the Paniai Free Papua National Liberation Army (TPN-OPM), under the command of General Jhon Yogi. They have been dropped by helicopters into 26 villages around the suspected TPN-OPM headquarters.
But the ongoing attacks have failed to entrap and destroy the TPN-OPM They have served to carry out Djakarta’s genocidal policy to massacre and displace the people from their homes and land. The TPN-OPN have inflicted casualties on the Indonesian military and police forces by carrying out guerrilla tactics.
Human rights defenders in West Papua have accused the Australian Government and the Australian-owned mining company, Paniai Gold, of being materially interested and actively involved in the ongoing attacks on the people of West Papua. Detachment 88 is a special force trained and armed by both the US and Australian military.
It has abducted, tortured and murdered ordinary West Papuans far more than members of the TPN-OPM. In the current military operations, the Indonesian military and police have used helicopters belonging to the Derewo River Gold (DRG) project, which is operated by Paniai Gold and fully owned by Melbourne-based gold mining company West Wits Mining. The corrupt and brutal Indonesian state is a puppet of Australian and US multinational companies.
The International League of Peoples’ Struggle supports the people of West Papua in upholding and defending their right to self-determination as a community against the oppressive state of Indonesia and its imperialist masters. The Indonesian state has no right to inflict gross and systematic human rights violations on individuals, groups or entire communities. The sovereign right of the people to wage revolution and overthrow an oppressive state is no different from or is quite similar to the right to secede or separate from it.
In the revolutionary process, the people (be they of the entire Indonesia or West Papua in particular) separate themselves from an oppressive state and establish a new state that brings about just and harmonious relations. In the course of people’s war, local organs of political power are first established and become developed before they can replace the old reactionary state

Selasa, 20 Desember 2011

West Papua : Dilaporkan 17 orang mati dalam operasi militer di Paniai

Logo Radio New Zealand
Human rights groups in the Indonesian province of West Papua say at least 17 people are reported to died in Paniai regency, after police using helicopters fired on houses last week.
Radio Australia reports more than 20,000 people are said to now be homeless after security forces torched homes.
The head of Jayapura-based NGO Elsham, Ferry Marisan, said a number of those dead are said to be members of the Free Papua Movement or OPM.
He said according to their reports of those who died, about ten people were OPM members and the rest members of the local community.
-------------------------------------------------
News Content © Radio New Zealand International
PO Box 123, Wellington, New Zealand

Rabu, 07 Desember 2011

Komandan Militer Kongo Masuk Daftar Hitam PBB

Evakuasi pengungsi suku Hutu di timur Kongo tahun 1997. AP/John Moore
New York -Sebuah komite Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rabu waktu New York (tadi pagi WIB), memasukkan seorang komandan militer dari Republik Demokratik Kongo ke dalam daftar hitam karena memerintahkan pembantaian dan pemerkosaan terhadap para perempuan dan anak-anak di kekerasan bagian timur negeri itu.

Sebagai tambahan atas Letnan Kolonel Innocent Zimurinda, bekas pemberntak yang dimasukkan ke militer sebagai bagian dari kesepakatan damai, Komite Sanksi Kongo Dewan Keamanan juga memasukkan ke dalam daftar hitam tiga anggota kelompok pemberontak Rwanda, Hutu. Demikian dinyatakan dalam sebuah statemen gabungan Amerika Serikat, Inggris dan Prancis.

Keempat orang itu akan menghadapi larangan bepergian secara internasional dan semua aset-aset finansialnya dibekukan.

Zimurinda dituduh karena pemberian “perintah yang berujung pembantaian lebih dari 100 pengungsi Rwanda, terutama perempuan dan anak-anak ,selama operasi militer pada April 2009 di area Shalio”.

Maret lalu, Human Rights Watch dan 50 anggota kelompok HAM Kongo mengajukan gugatan resmi terhadap Zimurinda, seorang perwira senior dalam konflik di negeri paling timur Afrika tengah. Kelompok-kelompok HAM bilang bahwa Zimurinda kepergok atau berpartisipasi dalam pembantaian, eksekusi, perkosaan dan perekrutan para bocah yang dipaksa menjadi anggota tentara.
Sumber : Tempo Interaktif
Reuters | dwi a

Berbagi